Kata-kata cinta ini bukan berasal dari tokoh-tokoh ternama. Tapi aku yakin dan selalu berdo’a mereka akan jadi orang-orang ternama, calon orang-orang besar. Amiiin… Ini nasehat dari sahabat-sahabatku. Terlepas mereka ngutil ni dari mana atau mereka buat sendiri, tapi yang jelas aku dengar kata-kata ini pertama kali keluar dari mulut mereka. Hee…(n_n)
- “Bila kau mencintai seseorang, lepaskanlah dia. Bila dia mencintaimu dia kan kembali padamu.” (Fath, 2004)
Ini nasehat tentang cinta yang pertama kudengar. Hahaha… hasil ngobrol waktu kuliah. Saat kudengar nasehat ini, belum ada siapa-siapa yang mengisi hatiku. Sampai sekitar 2 tahun kemudian ada yang mulai berubah dalam hidupku. Untung aku selalu ingat nasehat ini. Jadi gak tergila-gila sama orang itu. Honto ni arigato gozaimasu…
Yah, meskipun menurutku kata-kata ini terlalu pasif, namun dia tidak bersifat maksa. (Repotnya kalau yang disukai tuh gak tahu. Makanya, Bang. Mending diomongin daripada abang uring-uringan gak jelas. Kan kasihan tuh orang yang gak tau pa-pa ikutan kena marahnya. Sedih…)
Haa… peduli amat lah. Yang jelas nasehat ini telah menyelamatkanku sampai sekarang dari penderitaan cinta. Hee… (n_n).
- “Puncak dari perasaan cinta adalah merelakan.” (Aris, 2006)
Ini gak kudengar langsung dari orangnya sih. Tapi waktu itu pas kuliah Fisika Matematika I, pas lagi nunggu dosennya dateng, ada temen cewek, Citra, kebetulan baca tulisan nasehat tentang cinta dari Fath di binderku. Dia tanya “Wow, udah bisa mengamalkan belum?”. Aku jawab “Udah”. Lalu Citra cerita kalau Aris pernah memberikan nasehat ke dia: “Puncak dari perasaan cinta adalah merelakan.” Tapi sampai sekarang dia masih belum bisa mengamalkan. Hee..
Nasehat yang indah. Tulusnya… pokoknya Mawar Putih banget.
- “Kebahagiaan tertinggi adalah saat dicintai dan mencintai.” (Cak Man, 2007)
Ini adalah kata-kata Cak Man untuk seseorang yang dia bilang dia cinta padanya. Tapi orang itu tidak mencintainya. Heee… Tau deh. (n_n)
Menurutku gak selamanya saling mencintai itu menyenangkan. Apalagi kalau rasa itu datang tidak tepat pada waktunya…
- “Mencintai adalah pekerjaan besar, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang besar.” (Andi, 2007)
Ini nasehat yang diberikan sahabatku, Andi, saat aku mengambil salah satu keputusan besar dalam hidupku. Hmm…Yah, aku baru sadar sekarang kalau ternyata mencintai itu membutuhkan keberanian yang besar. Setidaknya begitulah menurutku saat ini. Karena bisa jadi teori-teori yang kita bangun harus rela diruntuhkan hanya demi cinta itu. Nah, tergantung mana yang lebih utama buat kita?
- “Cinta sejati tak menunggu yang dicinta untuk mencintai.”
Kata-kata ini prinsipku sejak dulu, saat aku tahu ternyata sahabatku tidak nganggap aku sebagai sahabatnya. Haa… Sebagaimana cinta, begitu juga persahabatan. Menurutku kita tidak berhak memaksakan perasaan kita ke orang lain. Jadi akhirnya kuputuskan aku tetap akan menganggapnya sahabatku, gak peduli dia nganggap aku apa.
Aku sudah terlalu sering ngalamin kayak gini. Dua kali di SMA dan sekali di masa kuliah. Jadinya udah lumayan biasa. Gak pake sakit hati lama-lama kayak awal-awal dulu… (n_n).
Belakangan baru aku baca di milis angkatan kuliahku kata-kata serupa yang diposting sobatku, Fath (kalo gak salah inget). “Sang pencinta tak menunggu orang lain untuk mencintai“. Yah, emang gitu seharusnya. Mawar Putih lagi…
“Ya ALLAH izinkan aku mencintaiMU,
hingga aku mencintai/tidak mencintai segala sesuatu
karenaMU”
Tan.. Tan… ada PR buat kamu, lihat diblogku… kamu harus melakukan apa yang aku lakukan…
http://hasanjunaidi.wordpress.com/2008/10/14/pr-yang-tersendat-sendat/