PERTANYAAN SEORANG SUAMI

27 10 2008
pertanyaan seorang suami

pertanyaan seorang suami

Anda adalah seorang ustadz muda di sebuah desa yang damai. Dengan
penghasilan yang anda dapatkan dari menulis, hidup anda berkecukupan,
walau tak bisa dibilang kaya raya. Tapi anda sangat bahagia apalagi
dikaruniai seorang istri berjilbab, cerdas, kasih sayang, dan peduli
sesama. Saat ini istri Anda sedang mengandung untuk kedua kalinya setelah
empat tahun silam melahirkan seorang bayi laki-laki sehat dan tampan yang
kini mulai menampakkan kecerdasannya dalam menghafal Al-Quran. Anda sangat
bersyukur kepada ALLAH atas karunia yang begitu berharga ini.

Anda tinggal di sebuah rumah sederhana berhadapan dengan pertokoan yang
cukup ramai di seberang jalan. Pertokoan mulai tutup di sore hari dan pada
saat itulah seorang lelaki gelandangan tua datang untuk beristirahat dan
tidur di emperan toko setelah sepanjang siang pergi entah kemana.
Pemandangan ini sudah terjadi selama sebulan sepanjang musim kemarau ini.
Dan selama itu pulalah istri anda selalu menyiapkan makanan untuk
diberikan pada gelandangan tua itu. Lalu memohon pada Anda dengan gayanya
yang lembut dan sedikit manja (hanya pada Anda) untuk mengantarkan makanan
pada gelandangan tua itu.

Pernah suatu kali Istri anda menegur halus ketika Anda menyebut
gelandangan tua itu dengan sebutan “Orang Gila”, sebagaimana orang-orang
desa memanggilnya. Yah, melihat pakaiannya yang lusuh compang-camping,
rambut gimbal, dan kakinya yang tak beralas memang mirip sekali dengan
orang-orang gila yang biasa berkeliaran di kampung. Namun Istri Anda
berkata “Dia tidak gila, Bi. Bukankah Abi pernah berbincang-bincang
dengannya? Dia hanya orang kaya yang bangkrut hingga jatuh miskin
begitu…”, ujarnya sedikit manja. Anda sebenarnya ingin menjelaskan bahwa
seringkali terdengar gumaman-gumaman tak jelas dari mulut gelandangan tua
itu. Namun karena tak ingin berdebat dengan istri Anda, Anda hanya
tersenyum mengalah.

Suatu sore ada pemandangan luar biasa, wajah ceria istri Anda berubah
mendung. Dari matanya mengalir lelehan hangat. Kepedihannya mengusik hati
Anda, membuat kaki anda melangkah menghampirinya. Saat itulah dari
mulutnya keluar kata-kata yang menjelaskan pemandangan ini,

“Bi, kalau nanti musim hujan tiba…Pak Tua itu bagaimana? Dia akan tidur
dimana? Bi…”

Istri anda tak melanjutkan kata-katanya, hanya terisak di bahu Anda.
Sementara kebimbangan besar melanda hati nurani Anda. Anda tahu walaupun
tak dikatakan, istri anda menginginkan gelandangan tua itu untuk tinggal
bersama di rumah anda. Tapi tentulah itu merupakan hal yang sangat berat.
Tak mungkin Anda membiarkannya hidup di tengah-tengah keluarga Anda
sementara anda sangat meragukan kewarasannya. Bayangan tawa riang anak
lelaki anda… Senyum ceria Istri Anda yang sedang mengandung anak kedua
anda…dan Gelandangan tua yang diguyur hujan deras berkelebat liar di
benak anda.

Pertanyaannya:
Apa yang akan teman-teman lakukan jika ada di posisi tokoh “Anda”?
Saya mohon, teman-teman bersedia menggunakan seluruh kebijakan yang teman-teman
miliki untuk menyelesaikan masalah ini.
Thanks b4. (n_n).
Semoga ALLAH membalas kebaikan teman-teman semua.


Tindakan

Information

Satu tanggapan

4 12 2008
Asrul Syam

Solusi yang mungkin cukup bijak, dengan menyerahkan semuanya yang berwenang. Mungkin di daerah sekitar tempat anda tinggal terdapat departemen sosial yang menangani urusan seperti itu. Tapi tidak mengantarkan langsung si dia kepada pihak depsos tersebut, melainkan menghubungi pihak depsos untuk menjemput si dia.

INTaN:
Thanks buat jawabannya, yah…(n_n)

Tinggalkan sebuah tanggapan