Setulus Cinta, Semurni Kasih Sayang

2 01 2009

Based on True Story..
Ini dapet dari milis gravitasi yang diposting ma temenku, buaYA’ Asurandi.
Mengharukan banget…

———————————————————————–

Dilihat dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno berumur 58 tahun. Kesehariannya diisi dengan merawat isterinya yang sakit, isterinya juga sudah tidak muda lagi. Pasangan tersebut menikah 32 tahun yang lalu. Mereka dikaruniai 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah isterinya melahirkan anak ke-empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke-tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya-pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat isterinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkatkerja, Pak Suyatno meletakkan isterinya di depan TV (supaya sang isteri tidak merasa kesepian…). Walau isterinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat isterinya tersenyum.Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia dapat pulang untuk menyuapi isterinya makan siang. Sorenya dia juga pulang untuk memandikan isterinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani isterinya nonton tv sambil menceritakan apa saja yang dialaminya seharian itu. Walaupun isterinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda isterinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat isterinya (sambil membesarkan ke-empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah pada dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah).

Pada suatu hari ke-empat anak Pak Suyatno tersebut berkumpul di rumah orangtua mereka sambil menjenguk ibunya (karena setelah mereka menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing2, dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia-lah yang merawatnya, hanya satu yang Pak Suyatno inginkan : semua anaknya berhasil).
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak sulung berkata “Pak, kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya: “sudah yang ke-empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu-pun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yang samasekali tidak diduga anak2 mereka: “Anak-anakku, jikalau perkawinan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan nikah……, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.., (sejenak kerongkongannya tersekat),; … kalian yg selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya pada ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?. Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang?, kalian
menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit?”
sejenak kemudian, meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno, merekapun melihat butiran2 kecil air jatuh di pelupuk mata Ibu
Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat isterinya yg sudah tidak bisa apa-apa?….disaat itulah meledak tangis Pak Suyatno di hadapan tamu yang hadir.

Di studio kebanyakan kaum perempuan-pun tidak sanggup menahan haru, disitulah Pak Suyatno bercerita ;“Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah sebuah bentuk kesia-siaan. Saya memilih isteri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat dia-pun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sedang sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya?. Sehatpun belum tentu saya mencari
penggantinya apalagi saat ini dia masih sakit…”


Tindakan

Information

2 tanggapan

17 02 2009
Lebih dari Edensor Manapun « Cinta tak pernah menyakiti, namun memberi arti

[...] Love Letter for Dearest Setulus Cinta, Semurni Kasih Sayang [...]

6 06 2009
eva

ketulusan sejatiii
cinta sejatiiii

Tinggalkan komentar