“…Lauknya tempe sama dadar jagung aja deh, Buk!” ucap Aim sambil memandangi ayam goreng keriting kesukaannya.
Yah, terpaksa! Sudah sejak sebulan lalu dia mulai berhemat. Uangnya mulai menipis karena ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang mapan. Selama ini, tuntutan hidup sehari-hari dia penuhi dengan kerja sambilan sebagai guru les privat di dekat tempat kosnya. Maklumlah, kendaraannya cuma sepeda kayuh tua yang dia beli dari pasar barang bekas. Jadi tak bisa jauh-jauh.
Ia berjalan menunduk sepanjang pulang dari warung nasi langganannya. Entah apa yang berkecamuk di benaknya. Bahkan jika kau tanya pun dia takkan benar-benar tahu apa yang dia pikirkan saat ini. Terlalu ribet. Dia lelah…
Hidup kian sulit baginya. Masa depan seolah tak jelas. Ingin rasanya dia berlari pulang ke rumah, tapi apa yang akan dia bawa pulang? Apakah rasa malu karena seorang sarjana ekonomi yang di elu-elukan di desanya pulang tanpa hasil? Aaahhh…entahlah….Kalau saja ekonomi keluarganya masih bagus, dia pasti akan melanjutkan kuliah s2 seperti yang dia inginkan selama ini. Kenapa juga usaha tembakau yang ditekuni ayahnya selama ini tiba-tiba bangkrut. Seluruh kebutuhan di rumah sekarang ini ditanggung oleh toko kelontong kecil milik kakak perempuan semata wayangnya.
Lamunannya terhenti oleh dua anak perempuan yang sedang mengorek-orek bak sampah di depan warnet Adinda. Yang pertama kurus tinggi, yang lain lebih kurus dan lebih pendek. Mereka sepertinya bukan kakak adik karena letak kemiripan mereka hanya pada kedekilan dan kelegaman kulitnya.
Tak lama mereka pun menuju di pos ronda kuning cerah seperti baru dicat, kontras dengan pakaian dua sosok yang mulai membuka bungkusan kertas coklat, tampaknya mereka akan makan siang di sana. Bungkusannya amat kecil. Itupun hanya satu bungkus.
“Ada apa?” tanya si kecil pada si keriting.
“Itu!” tangan si keriting menunjuk ke arah Aim berdiri, 100 meter dari mereka. “Dari tadi dia melototin kita terus.”
Karena kenyamanannya terusik, si kecil pun berseru,
“Hei, Mbak berkerudung kuning! Kau ini kenapa? Apa ada yang salah dengan kami?”
Aim pun tersipu. Ia tak bermaksud mengamati mereka tadi. Ia pun menghampiri mereka untuk meminta maaf, dan barangkali sedikit berbincang. Yah, begini-begini juga dia sangat sayang dengan anak-anak. Sangat sesuai dengan penampilannya yang lembut dan manis. Mata beningnya pun menyapa ramah ketika dia sudah berdiri tepat di depan si kecil.
“Maaf, aku boleh duduk bersama kalian?” tanyanya sopan.
“Ini tempat umum. Kalo mau duduk, kau duduk saja” kata si keriting sambil menurunkan karung berisi botol plastik di dekatnya. Matanya mengarah pada tas plastik transparan berisi nasi bungkus yang dibawa Aim. “Kau mau makan juga? Atau kau mau memberikan nasi itu untuk kami?”
Eh? Yang benar saja. Dia hanya bermaksud menyapa keduanya. Bukan untuk memberikan nasi bungkus ini. Uang di dompetnya hanya tinggal dua puluh ribu. Upah mengajar belum bisa dia terima dalam minggu ini. Itu artinya, uang tersebut harus cukup untuk lima hari ke depan. Tadinya dia berencana untuk makan satu kali sehari saja, dan nasi bungkus ini adalah makan pertama sekaligus terakhirnya untuk hari ini. Dan nasi ini harus dia berikan untuk kedua anak itu? Konyol. Mereka kan sudah punya makanan?
“Heeh…ditanya malah bengong…” omel si keriting. “kalau tak mau kasih ya sudah.”
Aim terkesiap sekali lagi. Mereka benar-benar tak punya sopan-santun. Atau lingkungan mereka memang mengajarkan begitu. Atau karena mereka benar-benar lapar? Sisi hatinya baru tersadar kalau keduanya hanya punya sebungkus makanan. Itupun dalam porsi kecil. Yah, tangannya pun terulur agak berat.
“Kalau kalian mau, silakan. Aku beli nasi tumis kangkung. Lauknya tempe goreng sama dadar jagung,” kata Aim sambil tesenyum seolah benar-benar rela.
Wajah si keriting cerah. Dia nyaris mengambil bungkusan itu kalau saja tangan kotor si kecil tak mencegahnya.
“Jangan, Tik. Dia mau makan nasi itu, kalau dia memang berniat memberi, pasti dia juga sudah kasih dari tadi”
“Lho, kok kamu yang ribut? Orang Mbak ini mau kasih kok!”, bantah si besar, yang mungkin saja bernama Tika, Titik, atau nama lain yang bisa dipanggil “Tik”.
Aim yang bingungĀ jadi merasa tak enak karena terbersit perasaan senang karena nasinya tidak jadi diambil. Yang benar saja? Dia ribut soal nasi bungkus dengan dua pemulung kecil?
“Sudahlah, aku berikan ini buat kalian kok.” ujar Aim menengahi.
“Tidak. Mbak saja yang makan”, jawab si kecil tanpa ekspresi. “Aku tahu kok rasanya lapar. Kami tak boleh mengganggu kesenanganmu yang berharap akan makan sebentar lagi.”
Aim tersentak.Seakan petir menyambar bersama kata-kata si kecil barusan. Anak kecil ini berpikir begitu dewasa, jauh dibanding postur dan usianya. Melebihi dia yang setahun yang lalu masih berstatus mahasiswi PTN ternama di Surabaya.
Dengan bersungut-sungut si keriting membuka bungkusan makanan miliknya. Dan alangkah terkejutnya Aim kala melihat itu bukan nasi, melainkan Tiwul bercampur kelapa parut. Mana mungkin tiwul sesedikit itu akan membuat keduanya kenyang? Setelah berapa lama mereka berjalan dari bak sampah satu ke bak sampah yang lain. Apalagi makanan itu miskin gizi…
Aim lalu berjalan meninggalkan keduanya tanpa pamit. Meninggalkan anak-anak yang mulai asyik dengan Tiwul yang entah masih enak atau tidak untuk dimakan. Toh keduanya sangat lahap.
Tak lama kemudian Aim kembali ke pos ronda ke tempat kedua anak perempuan dekil tadi makan. Kali ini dia membawa satu lagi tas plastik hagak besar. Siapapun akan tahu kalau di dalamnya berisi dua bungkus nasi porsi besar.
“Ini…”. Tangan Aim mengulurkan tas plastik berisi dua bungkus nasi itu, kali ini tanpa ragu. “Yang ini kalian boleh makan. Kubeli khusus untuk kalian berdua.” Senyum lebar menghiasi wajahnya yang berkeringat karena berjalan terburu-buru.
Setelah itu, Aim berpamitan pulang. Yah, dengan perasaan tenang dan ringan dia berjalan menuju kosnya. Ringan… bukan karena isi dompetnya tinggal sepuluh ribu rupiah, tapi ringan karena uang sepuluh ribu rupiah itu telah memenuhi ruang hatinya dalam bentuk yang tak ternilai dengan emas sekalipun. Yah, ini pertama kalinya ia merasa bahagia sejak ekonominya carut marut.
Sangat bahagia. Bahkan mungkin saat ini dia juga tak memikirkan bahwa uang sepuluh ribu yang “dibuangnya” telah melayang-layang ke surga, mengisi pundi-pundi amalnya…
Dari kejauhan pun terdengar seru riang si “Tik” dan si kecil “Woow, AYAM!!”
(cerpen ini bisa dibaca pula di sini)
nice story…
hikz…
inspiring..