Gelegar suara dan lolong liar pengikutmu
Menguapkan paksa rasa engganku tuk bersua denganmu
Mantap nian derapmu saat kau lalui gerbang istana
Manyamarkan gemerutuk tulang dua pecundang yang mengekormu
Rahangpun kau buat makin kaku
Saat melihat empat pasang boneka loreng
berjajar rapi di kanan kiri singgasanaku
Berharap garangnya paras kan redakan puyuh di hatimu
Urung kusodorkan amplop cokelat di tanganku
Karena dapat kupastikan setelahnya
Kan kau muntahkan rentetan peluru kata
Yang kau contek secara tak sadar dari para pandahulumu
Seolah tak peduli
Betapa lengkapnya aksesori boneka lorengku
Hahaha…
Aku tergelak tanpa tahu pasti apa yang kutertawakan
Apa karena kulihat masa silamku dalam dirimu
Ataukah karena imaji nakal yang melintas di benakku
Bahwa satu saat nanti kau duduki singgasanaku
Menggenggam segepok penyumpal mulut
Menertawai pahlawan kaum papa di hadapanmu
Tanpa tahu pasti mana yang lucu
Komentar Terakhir