Deja Vu

10 07 2009

Gelegar suara dan lolong liar pengikutmu

Menguapkan paksa rasa engganku tuk bersua denganmu

Mantap nian derapmu saat kau lalui gerbang istana

Manyamarkan gemerutuk tulang dua pecundang yang mengekormu

Rahangpun kau buat makin kaku

Saat melihat empat pasang boneka loreng

berjajar rapi di kanan kiri singgasanaku

Berharap garangnya paras kan redakan puyuh di hatimu

Urung kusodorkan amplop cokelat di tanganku

Karena dapat kupastikan setelahnya

Kan kau muntahkan rentetan peluru kata

Yang kau contek secara tak sadar dari para pandahulumu

Seolah tak peduli

Betapa lengkapnya aksesori boneka lorengku

Hahaha…

Aku tergelak tanpa tahu pasti apa yang kutertawakan

Apa karena kulihat masa silamku dalam dirimu

Ataukah karena imaji nakal yang melintas di benakku

Bahwa satu saat nanti kau duduki singgasanaku

Menggenggam segepok penyumpal mulut

Menertawai pahlawan kaum papa di hadapanmu

Tanpa tahu pasti mana yang lucu